Air menjadi bagian penting dalam siklus hidup setiap manusia, hewan dan tumbuhan di muka bumi.
Begitu juga dengan Orang Mingar, kebutuhan akan sumber air mendorong masyarakat setempat untuk terus mendapat dan mendekatkan sumber air dalam hidupnya.
Sepanjang keberadaan Orang Mingar di Mingar, sudah beberapa sumber air di upayakan untuk memenuhi kebutuhan mereka, mulai dari sumber air yang di temukan secara mistik sampai sumber air modern yakni sumur bor.
Di kesempatan ini saya mau memperkenalkan salah satu sumur yang ada di Mingar.
Selain sumur di Laba Suba, Pati Wai dan Sumur di Watan Lolo, Orang Mingar sebenarnya telah memiliki sumur Lete Wura , jauh sebelum sumur yang lain ini di temukan.
Lete Wura, nama yang sebenarnya tidak asing untuk masyarakat desa Pasir Putih, selain di jadikan nama tempat sebenarnya Lete Wura juga merupakan nama yang di sematkan pada sumur tertua di Mingar, letaknya berada ada diantara Watan Lolo dan Riangbaka, tapi lebih dekat ke Watan Lolo, di lihat dari batas tanah adat sumur ini terletak di wilayah adat Marga Lamanepa.
Sumur ini menjadi tumpuan hidup orang Mingar, pada saat belum di temukan sumur di Laba Suba semua orang mengambil air dari sumur ini. Meskipun menjadi sumur tertua dan memiliki nilai sejarah namun petunjuk kepemilikan atau penemu sumur ini sangat sulit untuk di temukan dalam cerita Orang Mingar.
Sejauh penelusuran saya tentang sumur Lete Wura atau dalam bahasa daerah setempat di sebut Wai Lete Wura ini, satu - satunya petunjuk yang dapat di jadikan acuan untuk mendalami lebih jauh tentang sumur ini adalah adanya keberadaan Nuba Bala Elik dan Nuba Ose Wai, keduanya adalah orang Mingar dari Marga Lamanepa dan Lamabaka.
Jika melihat dari riwayat sumur lainnya yang ada di Mingar maka sangat memungkinkan bahwa kedua nama yang di abadikan dalam bentuk Nuba ini memiliki kaitan dengan Wai Lete Wura. @yorizamatea.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar