Bertutur dalam bahasa ibu adalah sesuatu yang di rindukan dan membanggakan dan sebagai orang perantuan semua orang mendambakan ini. Tidak hanya aku karena ada keyakinan bahwa perantau yang lain mengalami keadaan yang sama rindu bertutur dan bercanda dalam bahasa ibu.
Orang Flores khususnya etnis Lamaholot memahami dan mengimplementasikan hal ini dalam kesehariannya. Dalam tutur kata dan berbagai cerita yang di luahkan untuk hal - hal yang menjadi peninggalan atau budaya sangat sering kalimat Koda Ina Tutu Ama Gena di sebutkan atau di lafalkan, hal ini sebagai bentuk penghormatan dan bukti bahwa sebelum mengenal dunia modern termasuk belajar bahasa Indonesia para leluhur telah membentuk diri dan karakternya melalui budaya atau kearifan lokal yang mengikat satu dengan yang lainnya sebagai saudara dan sahabat agar mereka terus saling menjaga dan menghormati satu dengan yang lainnya.
Koda Ina Tutu Ama Gena, tidak sebatas dalam tatanan adat perkawinan dan penggunaan bahasa ibu namun lebih jauh dari itu adalah bagaimana manusia (Orang Lamaholot) menjaga segala sesuatu yang telah di ciptakan dan di tinggalkan bagi anak cucunya, diantaranya adalah rumah adat, seremonial dalam menanam dan memanen hasil tani serta budaya lokal lainnya, yang di masa hidup para leluhur melakukannya untuk menghormati Lera Wulan Tana Ekan (Matahari Bulan dan alam semesta).
Saling menghargai dan memaafkan dalam bentuk pale tofi gelu genek (memakaikan dan bertukar pakaian) juga merupakan bagian yang di tinggalkan oleh para leluhur jauh sebelum hukum pemerintahan atau UU di berlakukan yang patut untuk di contoh, di pertahankan dan sedapatnya di hidupkan kembali di tengah masyarakat modern yang lebih memilih jalur hukum dalam menyelesaikan perkaranya agar Koda Ina Tutu Ama Gena tidak mengalami penyempitan makna dalam kehidupan orang Lamaholot.
Jurnal Sosiowan adalah catatan aktivitas pekerja sosial yang aktif di beberapa program pemberdayaan masyarakat, ceritanya di bagikan untuk membantu orang lain memahami tentang Pekerja Sosial, semua yang di tulis adalah pengalaman dan perjalanan yang di alami oleh penulis selama menjadi pendamping komunitas Pekerja Seks, Transgender, Anak Pulau dan Komunitas Marjinal lainnya di Kota Batam.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
-
Batam yang menjadi salah satu kota urban industrial juga tidak terlepas dari kemajemukan budaya dampak dari perpaduan masyarakat di masing -...
-
Sejarah 1987 Seorang wisatawan asal Belanda meninggal di RS Sanglah, Bali. Kematian pria berusia 44 tahun itu diakui Depkes disebabkan ...
-
Pulau Mat Belanda atau yang di kenal dengan Pulau Babi terletak di sebelahnya Pulau Belakang Padang yang juga di sebut dengan Pulau Penawar ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar