Bertutur dalam bahasa ibu adalah sesuatu yang di rindukan dan membanggakan dan sebagai orang perantuan semua orang mendambakan ini. Tidak hanya aku karena ada keyakinan bahwa perantau yang lain mengalami keadaan yang sama rindu bertutur dan bercanda dalam bahasa ibu.
Orang Flores khususnya etnis Lamaholot memahami dan mengimplementasikan hal ini dalam kesehariannya. Dalam tutur kata dan berbagai cerita yang di luahkan untuk hal - hal yang menjadi peninggalan atau budaya sangat sering kalimat Koda Ina Tutu Ama Gena di sebutkan atau di lafalkan, hal ini sebagai bentuk penghormatan dan bukti bahwa sebelum mengenal dunia modern termasuk belajar bahasa Indonesia para leluhur telah membentuk diri dan karakternya melalui budaya atau kearifan lokal yang mengikat satu dengan yang lainnya sebagai saudara dan sahabat agar mereka terus saling menjaga dan menghormati satu dengan yang lainnya.
Koda Ina Tutu Ama Gena, tidak sebatas dalam tatanan adat perkawinan dan penggunaan bahasa ibu namun lebih jauh dari itu adalah bagaimana manusia (Orang Lamaholot) menjaga segala sesuatu yang telah di ciptakan dan di tinggalkan bagi anak cucunya, diantaranya adalah rumah adat, seremonial dalam menanam dan memanen hasil tani serta budaya lokal lainnya, yang di masa hidup para leluhur melakukannya untuk menghormati Lera Wulan Tana Ekan (Matahari Bulan dan alam semesta).
Saling menghargai dan memaafkan dalam bentuk pale tofi gelu genek (memakaikan dan bertukar pakaian) juga merupakan bagian yang di tinggalkan oleh para leluhur jauh sebelum hukum pemerintahan atau UU di berlakukan yang patut untuk di contoh, di pertahankan dan sedapatnya di hidupkan kembali di tengah masyarakat modern yang lebih memilih jalur hukum dalam menyelesaikan perkaranya agar Koda Ina Tutu Ama Gena tidak mengalami penyempitan makna dalam kehidupan orang Lamaholot.
JURNAL SOSIOWAN
Jurnal Sosiowan adalah catatan aktivitas pekerja sosial yang aktif di beberapa program pemberdayaan masyarakat, ceritanya di bagikan untuk membantu orang lain memahami tentang Pekerja Sosial, semua yang di tulis adalah pengalaman dan perjalanan yang di alami oleh penulis selama menjadi pendamping komunitas Pekerja Seks, Transgender, Anak Pulau dan Komunitas Marjinal lainnya di Kota Batam.
Minggu, 01 Oktober 2017
Rabu, 20 September 2017
HIV BUKAN AKHIR SEGALANYA
Sejarah 1987
Seorang wisatawan asal Belanda meninggal di RS Sanglah, Bali. Kematian pria berusia 44 tahun itu diakui Depkes disebabkan AIDS. Indonesia masuk dalam daftar WHO sebagai negara ke-13 di Asia yang melaporkan kasus AIDS.
Minggu, 17 September 2017
MUPET: Antara Fenomena Identitas dan Aktualisasi Diri
Batam yang menjadi salah satu kota urban industrial juga tidak terlepas dari kemajemukan budaya dampak dari perpaduan masyarakat di masing - masing lingkungan dan tempat tinggal yang datang dari berbagai daerah, suku dan budaya di Indonesia. Salah satu yang membudaya dan memiliki pengaruh yang cukup besar dalam kehidupan remaja di Kota ini adalah Pesta (baca: Joget), keinginan yang besar dalam berpartisipasi di setiap pesta oleh sebagian anak remaja di Batam meskipun tidak di undang menjadikan mereka di juluki Anak Muka Pesta (MUPET). Julukan yang terkesan negatif namun merupakan bahasa sapaan atau guyonan bagi anak - anak yang suka berpesta.
Jika di lihat dari konteks sosial maka pesta dapat di definisikan sebagai wadah yang mempertemukan individu maupun kelompok dalam sebuah interaksi sosial pada waktu dan konteks tertentu tergantung pada konsep pesta itu sendiri, bila menelaah kehidupan anak pesta di Batam, defenisi ini tepat untuk menggambarkan jiwa anak remaja di Batam yang kesehariannya berpesta dari tenda ke tenda, dengan tujuan yang sama yakni bertemu dan bertatap muka serta menikmati hiburan yang mereka inginkan selain itu pesta juga menjadi ajang refreshing bagi sebagian kecil dari mereka setelah seminggu penuh berkutat dengan rutinitas .
Fenomena MUPET
Kata MUPET tidak sekedar muncul sebagai julukan untuk mencandai para sahabat sebaya yang doyan pesta, MUPET muncul dalam sebuah proses panjang , dari masa ke masa yang di turunkan oleh generasi sebelumnya , Anak MUPET saat ini adalah generasi yang terbentuk oleh lingkungan dan budaya yang telah lama berlangsung, perbedaan mereka hanya pada konteks penyelenggaraan pesta, pada waktu yang lalu pesta yang di rayakan dalam lingkup yang terbatas adalah pesta nikah, seiring berkembangnya zaman maka hal - hal lain yang menjadi momentum bagi seseorang cendrung untuk selalu di rayakan dengan iringan musik dan tari - tarian,contohnya adalah pesta ulang tahun anak, hal ini tidak terbatas pada satu golongan maupun suku.
MUPET dan Identitas
Menurut Stella Ting Toomey,"Identitas merupakan refleksi diri atau cerminan diri yang berasal dari keluarga, gender, budaya dan proses sosialisasi". Identitas melekat pada diri dan benda juga menjadi jati diri untuk di kenal baik sebagai perorangan, kelompok, etnis, gender dan budaya.
MUPET menjadi indentitas sebagian anak Batam yang lahir dan tumbuh kembang dalam budaya Flores, kebanggan pada budaya membuat mereka terus mempertahankannya dan karena budaya mampu mempengaruhi keadaan dan terbentuk oleh perpaduan generasi sosialis yang mengutamakan kebersamaan dalam relasi pertemanan membuat pesta menjadi sebuah budaya yang enggan untuk di tinggalkan oleh anak pesta sekalipun pesta cendrung memberikan ketimpangan dalam pertukaran sosial dari aspek psikologis, sosiologis dan ekonomis.
MUPET dan Aktualisasi Diri
Aktualisasi diri adalah keinginan seseorang untuk menggunakan semua kemampuan guna mencapai tujuan tertentu berdasarkan keinginannya . Ahli jiwa Abraham Maslow memaparkan dalam bukunya Heararchy Of Needs bahwa aktualisasi diri adalah kebutuhan dan pencapaian tertinggi Manusia tanpa mengenal suku asal - usul seseorang , seperti itu pula anak yang terlibat dalam lingkaran MUPET, mereka tidak di batasi oleh suku atau asal usulnya meskipun anak dari suku Flores yang menjadi inisiator namun pada dasarnya mereka memiliki satu kebutuhan yang sama yakni kebutuhan untuk di kenal.
Kesamaan keinginan dan kebutuhan yang besar untuk mendapatkan popularitas/ di kenal (baca: Wakten/ Wak Paten) di kalangan remaja inilah yang menghantar mereka untuk mendatangi setiap tempat pesta tanpa memandang jenis pestanya, yang penting ramai pengunjung, bisa joget dan lagunya mendukung (baca: hitz).
Semakin sering seorang anak mengikuti pesta dan bertemu banyak anak seusianya ia akan mengenal atau di kenal oleh banyak orang.
Hasil ngorol - ngidul dengan beberapa remaja yang terlibat maupun yang yang telah mengakhiri petualangan antar tenda antar wilayah dalam dunia MUPET memberi satu contoh seperti ini.
Sebut saja nama mereka Icha dan Achi, keduanya berbeda asal - usulnya, namun mereka adalah teman sekelas di bangku SMP dan tinggal di wilayah yang sama, Icha adalah anak perempuan yang selalu bepergian bersama anak lainnya dari tempat tinggal lain untuk dan senantiasa menghadiri pesta dimana pun meski tidak di undang, karena pergaulan yang tak terbatas ini Icha jadi memliki banyak teman, pada beberapa kesempatan Icha dan Achi pergi ke mall dengan lokasi mall yang berbeda, ternyata di setiap mall yang mereka datangi Icha selalu selalu di sapa dan di panggil dengan anak akrab oleh anak pesta yang mengenalinya, begitu juga sebaliknya dengan Icha, sedangkan Achi yang anak rumahan, kebingungan dengan apa yang di alaminya karena penasaraan Achi bertanya pada Icha tentang relasi pertemanan Icha, yang membuat Icha begitu mudah untuk di kenali dan mengenali orang - orang yang tidak pernah di temukan atau di kenal Achi, Icha pun menceritakan kepada Achi tentang aktivitas dan kegemaran Icha berpetualang ke setiap tenda pesta yang membuahkan hasil seperti yang di temui Achi, pengalaman ini mendorong Achi untuk mengikuti jejak Icha.
Contoh ini memang tidak mutlak terjadi pada semua orang atau bahasa lainnya bahwa contoh yang ada tidak berarti mampu mempengaruhi setiap anak, karena setiap keputusan kembali pada bagaimana proses pembentukan karakter pada anak tersebut di mulai serta faktor keluarga sang anak tersebut di besarkan, buktinya sebagian besar anak MUPET masih tetap ke sekolah dan menyelesaikan pendidikannya, tidak terlibat dalam seks bebas, maupun tindakan kriminal bahkan ada yang menjajaki dunia mixing lagu - lagu untuk memenuhi hasrat pecinta musik dari Indonesia Timur seperti lagu dari Maumere, Papua juga lagu - lagi top lainnya dan mengunggahnya melalui media YouTube untuk mendapatkan rating dan tentu menghasilkan uang.
MUPET tidak selamanya kelam dan suram, karena MUPET hanya sebatas keinginan yang ketika terpenuhi maka MUPET hanya menjadi masa lalu yang membantu seseorang mengenali dirinya dan menjadi alternatif keluarga dan orang tua dalam merefleksikan pendidikannya dalam keluarga untuk menghantar mantan Anak MUPET mencapai jenjang hidup yang lebih baik.@yorizamatea.
Referensi:
Jika di lihat dari konteks sosial maka pesta dapat di definisikan sebagai wadah yang mempertemukan individu maupun kelompok dalam sebuah interaksi sosial pada waktu dan konteks tertentu tergantung pada konsep pesta itu sendiri, bila menelaah kehidupan anak pesta di Batam, defenisi ini tepat untuk menggambarkan jiwa anak remaja di Batam yang kesehariannya berpesta dari tenda ke tenda, dengan tujuan yang sama yakni bertemu dan bertatap muka serta menikmati hiburan yang mereka inginkan selain itu pesta juga menjadi ajang refreshing bagi sebagian kecil dari mereka setelah seminggu penuh berkutat dengan rutinitas .
Fenomena MUPET
Kata MUPET tidak sekedar muncul sebagai julukan untuk mencandai para sahabat sebaya yang doyan pesta, MUPET muncul dalam sebuah proses panjang , dari masa ke masa yang di turunkan oleh generasi sebelumnya , Anak MUPET saat ini adalah generasi yang terbentuk oleh lingkungan dan budaya yang telah lama berlangsung, perbedaan mereka hanya pada konteks penyelenggaraan pesta, pada waktu yang lalu pesta yang di rayakan dalam lingkup yang terbatas adalah pesta nikah, seiring berkembangnya zaman maka hal - hal lain yang menjadi momentum bagi seseorang cendrung untuk selalu di rayakan dengan iringan musik dan tari - tarian,contohnya adalah pesta ulang tahun anak, hal ini tidak terbatas pada satu golongan maupun suku.
MUPET dan Identitas
Menurut Stella Ting Toomey,"Identitas merupakan refleksi diri atau cerminan diri yang berasal dari keluarga, gender, budaya dan proses sosialisasi". Identitas melekat pada diri dan benda juga menjadi jati diri untuk di kenal baik sebagai perorangan, kelompok, etnis, gender dan budaya.
MUPET menjadi indentitas sebagian anak Batam yang lahir dan tumbuh kembang dalam budaya Flores, kebanggan pada budaya membuat mereka terus mempertahankannya dan karena budaya mampu mempengaruhi keadaan dan terbentuk oleh perpaduan generasi sosialis yang mengutamakan kebersamaan dalam relasi pertemanan membuat pesta menjadi sebuah budaya yang enggan untuk di tinggalkan oleh anak pesta sekalipun pesta cendrung memberikan ketimpangan dalam pertukaran sosial dari aspek psikologis, sosiologis dan ekonomis.
MUPET dan Aktualisasi Diri
Aktualisasi diri adalah keinginan seseorang untuk menggunakan semua kemampuan guna mencapai tujuan tertentu berdasarkan keinginannya . Ahli jiwa Abraham Maslow memaparkan dalam bukunya Heararchy Of Needs bahwa aktualisasi diri adalah kebutuhan dan pencapaian tertinggi Manusia tanpa mengenal suku asal - usul seseorang , seperti itu pula anak yang terlibat dalam lingkaran MUPET, mereka tidak di batasi oleh suku atau asal usulnya meskipun anak dari suku Flores yang menjadi inisiator namun pada dasarnya mereka memiliki satu kebutuhan yang sama yakni kebutuhan untuk di kenal.
Kesamaan keinginan dan kebutuhan yang besar untuk mendapatkan popularitas/ di kenal (baca: Wakten/ Wak Paten) di kalangan remaja inilah yang menghantar mereka untuk mendatangi setiap tempat pesta tanpa memandang jenis pestanya, yang penting ramai pengunjung, bisa joget dan lagunya mendukung (baca: hitz).
Semakin sering seorang anak mengikuti pesta dan bertemu banyak anak seusianya ia akan mengenal atau di kenal oleh banyak orang.
Hasil ngorol - ngidul dengan beberapa remaja yang terlibat maupun yang yang telah mengakhiri petualangan antar tenda antar wilayah dalam dunia MUPET memberi satu contoh seperti ini.
Sebut saja nama mereka Icha dan Achi, keduanya berbeda asal - usulnya, namun mereka adalah teman sekelas di bangku SMP dan tinggal di wilayah yang sama, Icha adalah anak perempuan yang selalu bepergian bersama anak lainnya dari tempat tinggal lain untuk dan senantiasa menghadiri pesta dimana pun meski tidak di undang, karena pergaulan yang tak terbatas ini Icha jadi memliki banyak teman, pada beberapa kesempatan Icha dan Achi pergi ke mall dengan lokasi mall yang berbeda, ternyata di setiap mall yang mereka datangi Icha selalu selalu di sapa dan di panggil dengan anak akrab oleh anak pesta yang mengenalinya, begitu juga sebaliknya dengan Icha, sedangkan Achi yang anak rumahan, kebingungan dengan apa yang di alaminya karena penasaraan Achi bertanya pada Icha tentang relasi pertemanan Icha, yang membuat Icha begitu mudah untuk di kenali dan mengenali orang - orang yang tidak pernah di temukan atau di kenal Achi, Icha pun menceritakan kepada Achi tentang aktivitas dan kegemaran Icha berpetualang ke setiap tenda pesta yang membuahkan hasil seperti yang di temui Achi, pengalaman ini mendorong Achi untuk mengikuti jejak Icha.
Contoh ini memang tidak mutlak terjadi pada semua orang atau bahasa lainnya bahwa contoh yang ada tidak berarti mampu mempengaruhi setiap anak, karena setiap keputusan kembali pada bagaimana proses pembentukan karakter pada anak tersebut di mulai serta faktor keluarga sang anak tersebut di besarkan, buktinya sebagian besar anak MUPET masih tetap ke sekolah dan menyelesaikan pendidikannya, tidak terlibat dalam seks bebas, maupun tindakan kriminal bahkan ada yang menjajaki dunia mixing lagu - lagu untuk memenuhi hasrat pecinta musik dari Indonesia Timur seperti lagu dari Maumere, Papua juga lagu - lagi top lainnya dan mengunggahnya melalui media YouTube untuk mendapatkan rating dan tentu menghasilkan uang.
MUPET tidak selamanya kelam dan suram, karena MUPET hanya sebatas keinginan yang ketika terpenuhi maka MUPET hanya menjadi masa lalu yang membantu seseorang mengenali dirinya dan menjadi alternatif keluarga dan orang tua dalam merefleksikan pendidikannya dalam keluarga untuk menghantar mantan Anak MUPET mencapai jenjang hidup yang lebih baik.@yorizamatea.
Referensi:
- https://id.m.wikipedia.org/wiki/Fenomena
- https://id.m.wikipedia.org/wiki/Identitas.
- https://id.m.wikipedia.org/wiki/Pesta
- https://syulhadi.wordpress.com/my-document/umum/ilmu-komunikasi/teori-komunikasiteori-kategori-sosial-teori-pertukaran-sosial
- https://id.m.wikipedia.org/wiki/Aktualisasi_diri
Jumat, 15 September 2017
Mengabdi Tanpa Ruang dan Waktu
Setiap manusia memiliki asal - usul, dengan mengenali diri dan asal - usulnya seseorang akan cenderung untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi tempat asalnya, dalam bahasa etnis Lamaholot di Flores (Lembata, Adonara dan Solor) di sebut dengan Gelekat Lewo Tana (Pengabdian kepada Kampung Halaman).
Gelekat Lewo Tana adalah bentuk penghormatan yang tak ternilai dalam budaya Lamaholot, setiap orang dapat mengabdikan diri dengan cara apa pun di sesuaikan dengan kemampuan atau kapasitas orang itu sendiri, beberapa cara dapat dilakukan untuk mewujudkan rasa cinta pada tempat asal kita sendiri .
Dalam bahasa Indonesia Gelekat dapat di artikan sebagai mengabdi, pengabdian , dan padanan kata lainnya. 'Pengabdian itu adalah perbuatan baik yang berupa pikiran, pendapat ataupun tenaga sebagai perwujudan kesetiaan, cinta, kasih sayang, hormat, atau satu ikatan dan semua itu dilakukan dengan ikhlas".
Jika kita mengacu pada KBBI dan paparan Siti Mariyaria tentang Pengabdian maka Gelekat Lewo tidak sebatas pengabdian tenaga semata, setiap individu dapat melakukan pengabdian dengan perbuatan dan pikirannya.
Pengabdian dengan Perbuatan:
Pengabdian dengan berbuat baik terhadap orang lain seperti membantu seseorang untuk mendapatkan pekerjaan atau prestasi kedua hal ini berdampak pada kebahagiaan banyak orang, jika dapat di ilustrasi kan dalam pola multi level marketing maka ketika seseorang yang telah terbantu dalam mendapatkan pekerjaan dan ia juga membantu orang lain dalam mewujudkan harapan (bekerja) maka jumlah orang yang bekerja dari satu daerah asal akan bertambah dan pengganguran menjadi berkurang, pendapatan orang bertambah maka perubahan pun akan terwujud.
Pengabdian dengan pikiran:
Pengabdian dengan cara seperti ini seringkali di lakukan dan di temui dalam kehidupan sosial kita namun banyak yang tidak menyadari bahwa mereka telah menjalani kewajiban dalam hal berbakti. Dengan pikiran orang mampu mengungkapkan keprihatinannya dalam berbagai bentuk, keprihatinan kerap muncul dalam keluhan dan kritikan sehingga kita lupa bahwa dalam mengaktualisasikan rasa cinta terhadap Lewo Tana/ Kampung Halaman tidak hanya dengan solusi dan sanjungan ,kritikan dapat di jadikan landasan dalam mengevaluasi hal - hal yang telah terlewati untuk mencapai hasil atau perubahan sesuai keinginan individu maupun kelompok sosial dalam bermasyarakat, kritikan adalah penyeimbang sebuah keberhasilan.
Pengabdian bukan perbudakan, sebab perbudakan selalu di sertai dengan paksaan dan ketakutan, yang akhirnya menimbulkan pemberontakan . Tidak ada perbudakan yang menghasilkan kebahagiaan karena akan berakhir pada kehancuran. Pengabdian menjadi upaya manusia dalam mengangkat harkat individu dan kelompok manusia , tanpa batas dan tendensius.
Daftar Pustaka
Pesta. Arti Pengabdian. Diperoleh Tanggal 10 November 2013, dari http://pesta.org/arti_pengabdian
https://msriaa10.wordpress.com/2013/11/10/manusia-dalam-pengabdian/
Gelekat Lewo Tana adalah bentuk penghormatan yang tak ternilai dalam budaya Lamaholot, setiap orang dapat mengabdikan diri dengan cara apa pun di sesuaikan dengan kemampuan atau kapasitas orang itu sendiri, beberapa cara dapat dilakukan untuk mewujudkan rasa cinta pada tempat asal kita sendiri .
Dalam bahasa Indonesia Gelekat dapat di artikan sebagai mengabdi, pengabdian , dan padanan kata lainnya. 'Pengabdian itu adalah perbuatan baik yang berupa pikiran, pendapat ataupun tenaga sebagai perwujudan kesetiaan, cinta, kasih sayang, hormat, atau satu ikatan dan semua itu dilakukan dengan ikhlas".
Jika kita mengacu pada KBBI dan paparan Siti Mariyaria tentang Pengabdian maka Gelekat Lewo tidak sebatas pengabdian tenaga semata, setiap individu dapat melakukan pengabdian dengan perbuatan dan pikirannya.
Pengabdian dengan Perbuatan:
Pengabdian dengan berbuat baik terhadap orang lain seperti membantu seseorang untuk mendapatkan pekerjaan atau prestasi kedua hal ini berdampak pada kebahagiaan banyak orang, jika dapat di ilustrasi kan dalam pola multi level marketing maka ketika seseorang yang telah terbantu dalam mendapatkan pekerjaan dan ia juga membantu orang lain dalam mewujudkan harapan (bekerja) maka jumlah orang yang bekerja dari satu daerah asal akan bertambah dan pengganguran menjadi berkurang, pendapatan orang bertambah maka perubahan pun akan terwujud.
Pengabdian dengan pikiran:
Pengabdian dengan cara seperti ini seringkali di lakukan dan di temui dalam kehidupan sosial kita namun banyak yang tidak menyadari bahwa mereka telah menjalani kewajiban dalam hal berbakti. Dengan pikiran orang mampu mengungkapkan keprihatinannya dalam berbagai bentuk, keprihatinan kerap muncul dalam keluhan dan kritikan sehingga kita lupa bahwa dalam mengaktualisasikan rasa cinta terhadap Lewo Tana/ Kampung Halaman tidak hanya dengan solusi dan sanjungan ,kritikan dapat di jadikan landasan dalam mengevaluasi hal - hal yang telah terlewati untuk mencapai hasil atau perubahan sesuai keinginan individu maupun kelompok sosial dalam bermasyarakat, kritikan adalah penyeimbang sebuah keberhasilan.
Pengabdian bukan perbudakan, sebab perbudakan selalu di sertai dengan paksaan dan ketakutan, yang akhirnya menimbulkan pemberontakan . Tidak ada perbudakan yang menghasilkan kebahagiaan karena akan berakhir pada kehancuran. Pengabdian menjadi upaya manusia dalam mengangkat harkat individu dan kelompok manusia , tanpa batas dan tendensius.
Daftar Pustaka
Pesta. Arti Pengabdian. Diperoleh Tanggal 10 November 2013, dari http://pesta.org/arti_pengabdian
https://msriaa10.wordpress.com/2013/11/10/manusia-dalam-pengabdian/
Kamis, 14 September 2017
LSM dan HIV di Batam
Pulau Mat Belanda atau yang di kenal dengan Pulau Babi terletak di sebelahnya Pulau Belakang Padang yang juga di sebut dengan Pulau Penawar Rindu.
Mat Belanda menjadi salah satu pulau yang tidak asing di kalangan pekerja sosial untuk pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS di Kota Batam karena dalam sejarah HIV Kota Batam dari pulau inilah cikal bakal program pencegahan HIV di mulai. Tahun 1992 kasus HIV dan AIDS pertama di Batam di temukan, penemuan kasus di Mat Belanda berselang 5 tahun setelah kasus pertama di Indonesia di temukan di Bali.
Dengan di temukan HIV dan AIDS di Mat Belanda maka organisasi sosial masyarakat mulai mengambil peran terhadap perluasan epidemi HIV di Batam, Yayasan Pembinaan Asuhan Bunda (YPAB) menjadi salah satu lembaga non pemerintah pertama yang menggesa program pencegahan dan Penanggulangan HIV dan AIDS.
Respon terhadap penularan HIV mulai kelihatan pada tahun 1999, saat itu ada Lemabaga Non Pemerintah yang menjadi ujung tombak pencegahan HIV di Kota Batam, sedangkan pemerintah baru merespon situasi ini pada tahun 2005 dengan membentuk Komisi Penanggulangan Aids Kota Batam (KPAK Batam). Saat terbentuknya KPAK Batam, jumlah LSM sudah bertambah menjadi 5 lembaga hal ini membuktikan bahwa peran LSM dalam permasalahan sosial di Kota ini sangat signifikan, sampai 2017 Batam program Pencegahan HIV dan AIDS masih terus bertumpu pada 7 LSM.
Aktivitas LSM dalam ranah HIV dan AIDS di Kota Batam:
Mat Belanda menjadi salah satu pulau yang tidak asing di kalangan pekerja sosial untuk pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS di Kota Batam karena dalam sejarah HIV Kota Batam dari pulau inilah cikal bakal program pencegahan HIV di mulai. Tahun 1992 kasus HIV dan AIDS pertama di Batam di temukan, penemuan kasus di Mat Belanda berselang 5 tahun setelah kasus pertama di Indonesia di temukan di Bali.
Dengan di temukan HIV dan AIDS di Mat Belanda maka organisasi sosial masyarakat mulai mengambil peran terhadap perluasan epidemi HIV di Batam, Yayasan Pembinaan Asuhan Bunda (YPAB) menjadi salah satu lembaga non pemerintah pertama yang menggesa program pencegahan dan Penanggulangan HIV dan AIDS.
Respon terhadap penularan HIV mulai kelihatan pada tahun 1999, saat itu ada Lemabaga Non Pemerintah yang menjadi ujung tombak pencegahan HIV di Kota Batam, sedangkan pemerintah baru merespon situasi ini pada tahun 2005 dengan membentuk Komisi Penanggulangan Aids Kota Batam (KPAK Batam). Saat terbentuknya KPAK Batam, jumlah LSM sudah bertambah menjadi 5 lembaga hal ini membuktikan bahwa peran LSM dalam permasalahan sosial di Kota ini sangat signifikan, sampai 2017 Batam program Pencegahan HIV dan AIDS masih terus bertumpu pada 7 LSM.
Aktivitas LSM dalam ranah HIV dan AIDS di Kota Batam:
- Memberikan pengetahuan melalui penjangkauan (sharing face to face) sosialisasi, Fokus Grup Diskusi dan Kampanye, tentang HIV kepada Wanita Pekerja Seks, LGBT, Pekerja Pabrik/ industri dan Masyarakat Umum.
- Mendorong tercapainya perubahan perilaku pada populasi berisiko tinggi terhadap penularan HIV.
- Mendampingi klien yang hendak mengakses layanan HIV dan ARV.
- Memberikan dukungan kepada Orang yang telah positif HIV.
- Bersama KPAK Batam dan Dinas Kesehatan melakukan advokasi kebijakan dan anggaran untuk mendukung program Pencegahan HIV dan AIDS.
- Bersinergi dengan layanan kesehatan untuk melakukan mobile VCT dan IMS di populasi Wanita Pekerja Seks, LGBT, pekerja pabrik/ industri dan Masyarakat umum.
- Membentuk komunitas atau kelompok peduli HIV dan AIDS di Kota Batam.
Capaian dari berbagai aktivitas yang di lakukan oleh para petugas LSM khususnya pada tingkat pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS adalah meningkatnya akses layanan kesehatan khususnya VCT dan IMS di Kota Batam. Hal ini membuktikan bahwa sudah mulai tumbuh kesadaran dalam diri masyarakat untuk mengetahui status kesehatannya khususnya terhadap HIV dengan memeriksakan diri ke tempat layanan yang tersedia di kota Batam. @yorizamatea.
Sabtu, 09 September 2017
Wai Lete Wura
Air menjadi bagian penting dalam siklus hidup setiap manusia, hewan dan tumbuhan di muka bumi.
Begitu juga dengan Orang Mingar, kebutuhan akan sumber air mendorong masyarakat setempat untuk terus mendapat dan mendekatkan sumber air dalam hidupnya.
Sepanjang keberadaan Orang Mingar di Mingar, sudah beberapa sumber air di upayakan untuk memenuhi kebutuhan mereka, mulai dari sumber air yang di temukan secara mistik sampai sumber air modern yakni sumur bor.
Di kesempatan ini saya mau memperkenalkan salah satu sumur yang ada di Mingar.
Selain sumur di Laba Suba, Pati Wai dan Sumur di Watan Lolo, Orang Mingar sebenarnya telah memiliki sumur Lete Wura , jauh sebelum sumur yang lain ini di temukan.
Lete Wura, nama yang sebenarnya tidak asing untuk masyarakat desa Pasir Putih, selain di jadikan nama tempat sebenarnya Lete Wura juga merupakan nama yang di sematkan pada sumur tertua di Mingar, letaknya berada ada diantara Watan Lolo dan Riangbaka, tapi lebih dekat ke Watan Lolo, di lihat dari batas tanah adat sumur ini terletak di wilayah adat Marga Lamanepa.
Sumur ini menjadi tumpuan hidup orang Mingar, pada saat belum di temukan sumur di Laba Suba semua orang mengambil air dari sumur ini. Meskipun menjadi sumur tertua dan memiliki nilai sejarah namun petunjuk kepemilikan atau penemu sumur ini sangat sulit untuk di temukan dalam cerita Orang Mingar.
Sejauh penelusuran saya tentang sumur Lete Wura atau dalam bahasa daerah setempat di sebut Wai Lete Wura ini, satu - satunya petunjuk yang dapat di jadikan acuan untuk mendalami lebih jauh tentang sumur ini adalah adanya keberadaan Nuba Bala Elik dan Nuba Ose Wai, keduanya adalah orang Mingar dari Marga Lamanepa dan Lamabaka.
Jika melihat dari riwayat sumur lainnya yang ada di Mingar maka sangat memungkinkan bahwa kedua nama yang di abadikan dalam bentuk Nuba ini memiliki kaitan dengan Wai Lete Wura. @yorizamatea.
Rabu, 06 September 2017
HIV: Berkarya Bersama Pita Merah.
Tiga tahun berlalu dan hari ini seorang sahabat menandai kronologi FBku dengan foto yang kami dokumentasikan ketika mengikuti pelatihan pengelolaan data untuk program Pencegahan dan Penanggulangan HIV dan AIDS di Kepulauan Riau di Tanjung Pinang. Tidak ada yang istimewa dari foto - foto yang ada, hanya saja ketika menyadari bahwa itu adalah momentum 3 yang lalu ada keinginan untuk menghitung semua waktu yang telah saya lewati di program HIV dan AIDS, ada dorongan untuk menuliskan semua yang aku lewati bersama para Pekerja Seks, Transgender, Gay dan para sahabat yang telah tertular HIV untuk melengkapi karya - karya kecilku yang tak seberapa itu.
Sudah sangat banyak orang yang bekerja untuk mencegah terjadi penularan HIV di komunitas PSK, dan LGBT sehingga saya akhirnya memilih untuk bekerja dan berkarya, bagiku berkarya akan membuatku lebih leluasa untuk beraktifitas kapan pun dimana pun, hal ini tidak untuk menyaingi mereka yang telah lebih dahulu bekerja di pencegahan HIV karena yang ku ketahui mereka adalah orang - orang hebat yang telah melakukan hal - hal yang besar dalam mengurangi angka kasus HIV dan kematian yang di sebabkan oleh HIV, mereka telah berusaha untuk mendorong setiap orang agar menjadi lebih peduli pada persoalan ini, HIV bagi mereka adalah tantangan yang harus di hadapi bersama, begitu juga dengan diriku, menjadi sebuah kesempatan yang sangat berharga bisa bersama mereka untuk berbicara dan berkarya di bidang pencegahan penyakit menular ini.
Sebagian besar masyarakat saat ini sudah tahu tentang HIV minimal mendengar kata HIV tetapi apakah yang pernah mendengar sudah pasti tahu ???
Tidak ! Ini jawaban yang kerap di temukan dalam aktivitas para pekerja di pencegahan HIV.
Apakah HIV mudah menular ?
Tidak, karena saya dan begitu banyak orang lain telah membuktikan itu, kami hidup, bekerja dan bersentuhan langsung secara sosial dengan orang - orang yang telah HIV positif dan sampai saat membagikan cerita ini kami masih tidak tertular HIV dari mereka yang di takuti selama ini.
Apakah orang dengan HIV akan cepat meninggal dunia ????
Tidak, karena yang menentukan ajal manusia itu adalah Yang Maha Kuasa bukan HIV. Setiap orang bisa meninggal kapan saja dan dimana saja, apakah dengan HIV positif atau tidak.
Apakah dengan HIV di tubuhnya orang tetap hidup sehat ???
Ya, sudah sangat banyak orang positif HIV yang hidup dengan sehat berbagi ceria dan berbahagia bersama orang - orang yang mereka cintai karena mampu keluar dari keterpurukan mereka dengan menatap masa depan sebagai sebuah harapan, oleh karena itu berhentilah untuk takut, penularan HIV tidak semudah yang di bayangkan dan HIV bukan akhir segalanya.@yorizamatea.
Langganan:
Komentar (Atom)
-
Batam yang menjadi salah satu kota urban industrial juga tidak terlepas dari kemajemukan budaya dampak dari perpaduan masyarakat di masing -...
-
Sejarah 1987 Seorang wisatawan asal Belanda meninggal di RS Sanglah, Bali. Kematian pria berusia 44 tahun itu diakui Depkes disebabkan ...
-
Pulau Mat Belanda atau yang di kenal dengan Pulau Babi terletak di sebelahnya Pulau Belakang Padang yang juga di sebut dengan Pulau Penawar ...

