Minggu, 01 Oktober 2017

Koda Ina Tutu Ama Gena

Bertutur dalam bahasa ibu adalah sesuatu yang di rindukan dan membanggakan dan sebagai orang perantuan semua orang mendambakan ini. Tidak hanya aku karena ada keyakinan bahwa perantau yang lain mengalami keadaan yang sama rindu bertutur dan bercanda dalam bahasa ibu.

Orang Flores khususnya etnis Lamaholot memahami dan mengimplementasikan hal ini dalam kesehariannya. Dalam tutur kata dan berbagai cerita yang di luahkan untuk hal - hal yang menjadi peninggalan atau budaya sangat sering kalimat Koda Ina Tutu Ama Gena di sebutkan atau di lafalkan, hal ini sebagai bentuk penghormatan dan bukti bahwa sebelum mengenal dunia modern termasuk belajar  bahasa Indonesia para leluhur telah membentuk diri dan karakternya melalui budaya atau kearifan lokal yang mengikat satu dengan yang lainnya sebagai saudara dan sahabat agar mereka terus saling menjaga dan menghormati satu dengan yang lainnya.

Koda Ina Tutu Ama Gena, tidak sebatas dalam tatanan adat perkawinan dan penggunaan bahasa ibu namun lebih jauh dari itu adalah bagaimana manusia (Orang Lamaholot) menjaga segala sesuatu yang telah di ciptakan dan di tinggalkan bagi anak cucunya, diantaranya adalah rumah adat, seremonial dalam menanam dan memanen hasil tani serta budaya lokal lainnya, yang di masa hidup para leluhur melakukannya untuk menghormati Lera Wulan Tana Ekan (Matahari Bulan dan alam semesta).

Saling menghargai dan memaafkan dalam bentuk pale tofi gelu genek (memakaikan dan bertukar pakaian) juga merupakan bagian yang di tinggalkan oleh para leluhur jauh sebelum hukum pemerintahan atau UU di berlakukan yang patut untuk di contoh, di pertahankan dan sedapatnya di hidupkan kembali di tengah masyarakat modern yang lebih memilih jalur hukum dalam menyelesaikan perkaranya agar Koda Ina Tutu Ama Gena tidak mengalami penyempitan makna dalam kehidupan orang Lamaholot.


Koda Ina Tutu Ama Gena